Selasa, 19 Maret 2013

Sang Zahid

Melalui buku ini, kita menemukan pembahasan menyeluruh asal-muasal semua nilai yang dihidupi Gus Dur, yang pada ujungnya menghidupi semua yang telah disentuhnya sepanjang perjalanannya di dunia.
Sebuah buku yang wajib dibaca oleh mereka yang ingin memahami Gus Dur secara utuh, apalagi oleh mereka yang membaiat dirinya sendiri sebagai GUSDURian atau murid Gus Dur dan ingin merawat warisan nilai, pemikiran, dan perjuangannya bagi dunia ini.
 
 
Judul Buku: Sang Zahid : Mengarungi Sufisme Gus Dur
Penulis: KH Husein Muhammad
Penerbit: LKis
Terbit: September 2012
ISBN: 9789792553819


HARGA:
Rp. 40.000
Rp. 30.000

Sejarah Tokoh Bangsa

Judul : Sejarah Tokoh Bangsa
Penulis : Yanto Bashri & Retno Suffatni (eds)
Tebal : x + 486 halaman
Ukuran : 12 x 18 cm
ISBN : 979-3381-77-9
Terbit : Cet I, Januari 2005

Sinopsis
" . . . den ajembar, den momot lawan, den wengku, denkaya segara… menjadi pemimpin haruslah seibarat samudera, berlapang hati, luas, sanggup memuat dan memangku." (Kitab Wulangreh)

harga
Rp.62.000
Rp.40.000 

Senin, 18 Maret 2013

Sriwijaya

Judul : Sriwijaya
Penulis : Prof. Dr. Slamet Muljana
Tebal : xvi + 306 halaman
Ukuran : 14,5 x 21 cm
ISBN : 979-8451-62-7
Terbit : Cet I, Februari 2006

Sinopsis
Sejarah Sriwijaya, kerajaan maritim terbesar di tanah Sumatra, sejak lama terkubur dalam berbagai prasasti dan piagam peninggalan masa lalu. Belum banyak penggalian sejarah yang dilakukan.Padahal, inilah pusat lalu-lintas niaga yang paling tua sekaligus urat nadi ekonomi terpenting di Asia Tenggara. Sriwijaya mencapai kejayaan berkat kekayaan laut dan keterbukaannya kepada dunia luar. Ia jadi saksi bisu pergerakan arus global yang merambah masuk ke pelataran Nusantara.

harga:
Rp. 55.000
Rp. 35.000 

Teks Otoritas Kebenaran

Teks Otoritas Kebenaran  
Penulis:  Nasr Hamid Abu Zaid  
Ukuran: 14,5 x 21 cm  
Hakaman: 368   
ISBN: 979-3381-31-0      
Cet. 1    Aug-03  

"Buku ini berusaha memberikan gambaran lebih terkait hermeneutika al-Qur'an. Dan, bahwasanya teks bukanlah satu-satunya medium yang memiliki otoritas untuk memperoleh kebenaran.


harga:  Rp. 70.000 
           Rp. 35.000 

Selasa, 12 Maret 2013

Teologi Negatif Ibn Arrabi




Kode Buku        : LK0372
Judul Buku        : Teologi Negatif Ibn ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan
Penulis            : Muhammad Al-Fayyadl
ISBN            : 979-25-5375-4
ISBN 13            : 978-979-25-5375-8
Tebal            : 294 halaman
Kertas/Ukuran        :           /14,5 x 21 cm
Cetakan        : I,Maret 2012
Katagori        : Islam kritis
Penerbit        : LKiS
Harga            : Rp.65.000,- Rp. 40.000

Sinopsis        :
Buku Teologi Negatif Ibn ‘Arabi ini ingin memperkenalkan perspektif dan memperkaya wacana dalam cara kita bertuhan atau berteologi. Cara kita berteologi sejauh ini masih dalam koridor yang “normal”, teologi yang membingkai Tuhan dalam konsep-konsep yang baku, formal, dan positif, sehingga menempatkan Tuhan sebagai realitas yang objektif, Tuhan dalam pengertian logos, Tuhan sebagai kepercayaan, Tuhan dalam suatu disiplin ilmu (kalâm) yang didasarkan pada asumsi-asumsi metafisis-ontologis tertentu.
Ibn ‘Arabi, selain sebagai seorang sufi besar, ternyata juga seorang teolog yang mumpuni, dalam artian ia melakukan teoretisasi ketuhanan dengan caranya sendiri. Karena itu, Tuhan, dalam teologi negatif, adalah Misteri. Ia adalah “Misteri yang Absolut” (al-ghayb al-muthlaq). Pengalaman Ibn ‘Arabi ini merupakan sebuah eksperimentasi, betapa jalan menuju-Nya begitu terjal dan penuh onak berduri. Di wilayah tak bertuan itu, bahasa dan kata-kata seperti dibawa ke batas terakhirnya.
Sejak Ibn ‘Arabi, atau bahkan mungkin sejak Ibrahim, “iman” barangkali tak akan pernah sama. Ia bukan lagi wilayah yang dihuni oleh kata, oleh kalâm, oleh logos dan metafisika, melainkan suatu ruang yang berada di antara kata-kata dan kebisuan, antara pemikiran dan non-pemikiran, antara pernyataan dan keheningan.
Kontribusi penting buku ini ialah kritiknya terhadap basis konstruksi keilmuan kalâm, yang tetap tak beranjak dari asumsi-asumsi tradisionalnya yang membelenggu pemahaman umat, sehingga terjadi dominasi pengetahuan tertentu tentang Tuhan (klaim pengetahuan) seraya menafikan pengetahuan lainnya. Juga kritiknya terhadap klaim kebenaran dalam beragama baik dalam lingkup agama-agama maupun aliran tertentu di dalam agama.

GusDur NU dan Masyarakat Sipil.










Judul : Gus Dur Nu, Dan Masyarakat Sipil
Penulis : Ellyasa KH. Darwis
Tebal : xiv + 194 halaman
Ukuran : 15,5 x 24 cm
ISBN : 979-8966-04-x
Terbit : Cet II, Januari 2010

Sinopsis
Makna apakah yang telah dihadirkan Nahdlatul Ulama untuk sebuah eksperimen kebangsaan yang disebut Indonesia? Bagaimana anarki pemaknaan sosial-politik seperti itu menjadi mungkin? Para peneliti dalam antologi ini, menyadarkan kita bahwa di tengah belitan sistem politik serba negara yang hampir-hampir tidak memberikan ruang sedikitpun kepada warga masyarakat untuk turut memaknai proses kebangsaannya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini layak terus dikedepankan dan dapat memberikan jawaban yang benar-benar di luar dugaan. Dialektika NU - Indonesia seperti tercermin dalam satu dasawarsa terakhir tak dapat dijawab hanya dengan ”kalah” di satu pihak dan ”menang” di pihak lain.


harga  : Rp. 25.000

Tuhan Tidak Perlu Dibela

Dalam kenyataan sejarah, agama sama sekali memang tidak dapat steril dari berbagai hasrat dan kepentingan manusiawi, sehingga dalam titik-titik tertentu agama kerap kali ditunggangi, demi interest dari kelompok tertentu. Konteks yang sedemikian lalu menyeret agama ke suatu wilayah yang cukup politis: ia menjadi semacam legitimasi sikap politis dari kepentingan suatu kelompok. Nama Tuhan, yakni “Sang Penguasa Agama”, dibawa-bawa ke sana kemari, mirip sebuah barang dagangan. Kalau sudah demikian kejadiannya, apakah yang terjadi sebenarnya bukan merupakan reduksi terhadap nilai luhur dari misi agama itu sendiri?

Kolom-kolom “klasik” Gus Dur--panggilan akrab Abdurrahman Wahid--yang terkumpul dalam buku ini kurang lebih berusaha menyoroti peranan agama dalam masyarakat yang sedang mengalami berbagai proses perubahan--politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan--, seperti juga sekarang ini. Dalam tulisan-tulisan yang awalnya dimuat di Majalah Tempo ini, tercium kesan yang cukup kuat akan suatu kekhawatiran terjadinya perselingkuhan agama dengan sebuah kepentingan politik kelompok tertentu--yakni dengan mengatasnamakan agama, atau bahkan Tuhan--sehingga akhirnya melahirkan suasana politik kekerasan atau kekerasan politik dengan dalih agama.